5 Macam Metode dalam Pembuatan Vaksin COVID-19
Pada awal abad ke-21 kasus-kasus utama penyakit infeksi mematikan disebabkan oleh kelompok bakteri dan virus patogen. Pada saat ini anak-anak dan orang tua adalah kelompok renta yang paling banyak terserang oleh mikroba patogen. Khususnya dinegara-negara berkembang dimana sanitasi dan menjaga kesehatan tubuh masih tergolong rendah menjadikan tingginya angka penyakit infeksi. Hingga saat ini pengendalian penyakit infeksi masih dilakukan dengan metode kombinasi, mulai dari implementasi sanitasi, hingga penggunaan agen antimikroba dan vaksin.
{tocify} $title={Daftar isi}
A. Penyakit Covid-19
Awal tahun 2020 lalu dunia digemparkan dengan kemunculan penyakit infeksi baru yang disebabkan oleh virus jenis baru. Virus ini diberi nama SARS CoV-2 yang berkorelasi dengan penyakit saluran pernafasan akut atau diistilahkan COVID-19. Virus ini pertama kali muncul didaerah kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir Desember 2019 lalu, dan saat ini sudah menyebar ke 213 negara, dengan angka kasus positif infeksi lebih dari 3 juta orang. Belum ada agensia antiviral dan vaksin yang cocok untuk mengobati penyakit ini.
B. Perbedaan Antiviral dan Vaksin
C. Macam-Macam Metode Pembuatan Vaksin Covid-19
Dalam pembuatan vaksin ada beberapa jenis metode pendekatan yang digunakan, diantaranya:
- Vaksin Berbasis Virus
- Vaksin Berbasis Vektor Virus
- Vaksin Berbasis Asam Nukleat Virus
- Vaksin Berbasis Protein Virus
- Vaksin Berbasis Partikel Mirip Virus
1. Vaksin Berbasis Virus
Vaksin jenis ini dibuat menggunakan virus SARS CoV-2 yang dilemahkan atau diinaktivasi. Virus dilemahkan dengan cara disuntikkan kedalam sel hewan atau sel manusia secara invitro hingga virus kehilangan sifat virulensinya. Selain itu virus juga dapat dilemahkan secara fisik menggunakan senyawa kimiawi seperti formaldehid atau dipanaskan.
Selanjutnya virus disuntikkan ke dalam tubuh yang sehat untuk merangsang pembentukan antibodi terhadap Covid-19. Apabila seseorang sudah memiliki antibodi terhadap Covid-19, maka akan sulit untuk terinfeksi.
Vaksin berbasis virus yang dilemahkan / diinaktivasi sudah menjadi standar pembuatan vaksin sejak ditemukan pertamakali oleh Robert Koch dan Louis Pasteu (1881).
2. Vaksin Berbasis Vektor Virus
Vaksin jenis ini dikembangkan menggunakan metode rekayasa genetika. Metode ini menggunakan virus jenis lain sebagai vektor atau perantara untuk disisipkan gen virulen. Gen yang disispkan adalah gen pengkode protein spike (S) virus corona. Vektor yang digunakan adalah virus yang lemah atau bersifat tidak virulen, biasanya menggunakan kelompok adenovirus.
Vektor yang telah disisipkan gen target kemudian disuntukkan kedalam tubuh seseorang yang sehat. Kemudian virus akan bereplikasi, namun tidak menyebabkan sakit karena vektor bersifat tidak virulen.
Protein S yang dibentuk oleh vektor virus akan dikenali tubuh sebagai antigen. Tubuh akan merenspon antigen dengan membentuk antibodi spesifik oleh sel-sel imun. Antibodi yang telah terbentuk memungkinkan seseorang akan kebal terhadap infeksi virus SARS CoV-2. Namun sayangnya metode ini belum ada lisensi resmi untuk dijadikan stadar pembuatan vaksin karena cukup beresiko.
3. Vaksin Berbasis Asam Nukleat Virus
Gen protein S virus akan transkripsi dan ditranslasi menjadi proteis S. Protein S akan dikenali oleh sel-sel imun tubuh sebagai antigen dan direspon dengan menghasilkan antibodi. Antibodi yang telah terbentuk memungkinkan seseorang akan kebal terhadap infeksi virus SARS CoV-2. Namun sayangnya metode ini belum ada lisensi resmi untuk dijadikan stadar pembuatan vaksin.
4. Vaksin Berbasis Protein Virus
Vaksin jenis ini dikembangkan berdasarkan subunit protein virulen yang dimiliki oleh virus. Protein spike (S) dan protein membran (M) pada virus SARS CoV-2 termasuk jenis protein yang virulen.
Protein S dan M diisolasi dari struktur virus kemudian diinjeksikan secara langsung ke dalam tubuh orang yang sehat. Protein S dan M akan dikenali sebagai antigen dan menimbulkan respon imun tubuh sehingga membentuk antibodi. Antibodi yang telah terbentuk memungkinkan seseorang akan kebal terhadap infeksi virus SARS CoV-2.
Dalam praktiknya pembuatan vaksin berbasis protein virus diperlukan adjuvant. Adjuvant merupakan molekul atau agensia tambahan yang telah dimodifikasi untuk mempercepat respon imun tubuh dan memberikan efek jangka panjang.
5. Vaksin Berbasis Partikel Mirip Virus
Tingkat virulensi suatu virus diperantarai oleh materi genetik yang berada didalam struktur virus. Dalam metode pembuatan vaksin berbasis partikel seperti virus, materi genetik virus dihilangkan untuk mendapatkan partikel virus yang bersifat tidak virulen. Virus yang kehilangan materi genetik diinjeksikan kedalam tubuh untuk menghasilkan respon imunitas berupa antibodi spesifik. Antibodi yang telah terbentuk memungkinkan seseorang akan kebal terhadap infeksi virus SARS CoV-2. Namun sayangnya metode ini sangat sulit dilakukan karena keterbatasan alat dan sumberdaya.
D. Sumber & Referensi
- Callaway, E. The race for coronavirus vaccine: a graphical guide. Nature 580, 576-577 (2020). DOI: 10.1038/d41586-020-01221-y.
- Le, T.T., et al. The Covid-19 vaccine development landscape. Nature. DOI: 10.1038/d41573-020-00073-5.
- Madigan, M.T., Martinko, J.M., Bender, K.S., Buckley, D.H and Stahl, D.A. 2015. Brock Biology of Microorganism 14 th edition. Pearson Education, US.
COVID Vaccination near me I think this is an informative post and it is very useful and knowledgeable. therefore, I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article.
ReplyDelete